assalamu'alaikum sahabat baca semua terimah kasih atas kunjungan sahabat semua

Minggu, 31 Januari 2016

Tadzkiyah Nafs


Aji ning diri ono eng lati
Kadang kuasa diri pada seseorang tidak mampu menahan amrah yang sudah diubun-ubun, sehingga tersalurkan menjadi umpatan, makian atau kata-kata kotor. Semua seolah-olah sudah menjadi gerak reflek ketika ada gesekan yang sepele untuk mengeluarkan kosakata kotor atau umpatan.
Berawal dari canda, lama berlangsung candanya maka setan memebri bumbu agar lebih seru, maka timbul emosi yang tak terkontrol satu sama lain ingin membalas, terjadilah ‘perang mulut’. kubu satu mengunggulkan dirinya lawan pun tak mau kalah dengannya. Akhirnya satu sama lain saling membeberkan aib masing-masing.  
Fenomena diatas bukan satu hal yang langka. Acapkali seorang tertipu dengan hasutan setan, sehingga kendali diri yang ada adalah luapan emosi yang tak terkontrol, pedebatan yang berujung pada saling mendiamkan satu sama lainnya, atau saling mencaci. Padahal jauh 15 abad silam tauladan kita, baginda Nabi Muhammad saw telah memperingatkan kepada ummatnya dari sifat marah yang tidak pada tempatnya,
sebagaimana beliau bersabda kepada salah seorang sahabat yang meminta nasehat :
“ Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari).
Dan masih banyak untaian hikmah beliau yang menerangkan betapa pentingnya seorang dapat menahan amarahnya, beliau bersabda:
  “Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu yang pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah ia yang dapat menahan dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alah)
Dalam perkara ini ada satu alat yang membantu proses kemarahan menjadi lancar, yaitu lisan. Ketika seorang dikuasai amarah yang memuncak, hormon yang ada akan merespon kemudian disalurkan keotak terjadi rekasi pada lisan. Maka akan muncul umpatan, kata-kata kotor yang tak terkendali. Kemungkinan kecil seorang akan dapat menahannya atau bersabar atasnya.   
Ketika lisan yang Allah swt amanahkan tidak digunakan dengan semestinya, ia akan menjerumuskan si empunya kepada kehinaan dan menurunkan reputasinya. Benarlah ungkapan jawa yang mengatakan “aji neng diri ono eng lati” nilai seseeorang ada pada lisannya. Sebagai seorang yang beriman tentunya kendali lisan harus diperhatikan, apakah tidak cukup contoh didepan mata? Hanya pertengkarang sepele, dengan mudah seorang mengayunkan golok ke kepala orang. Hanya karena di ejek, orang dengan mudah menumpahkan darah saudaranya. Dengan demikian  ‘ashobiyah yang dilarang Nabi saw muncul tanpa dipangil.
Bagi seorang mukmin kalimat yang selalu terucap senantiasa memberi efek baik bagi yang mendengarkan atau lawan bicaranya. Ucapan yang baik merupakan salah satu faktor terpenting dalam mengokohkan karakter seseorang dan selalu akan membimbing mereka ke jalan yang baik. Ucapan yang baik akan memberi dampak baik bagi ruh dan pikiran. Betapa banyak ucapan yang keluar dari seorang pendosa atau orang-orang yang enggan menjaga lisannya mampu merubah seorang kejalan yang tercela. Na’udzubillah   
Betapa penting lisan yang Allah berikan kepada umat manusia, sehingga seorang hamba diperintahkan untuk menjaganya. Dalam suatu kesempatan Umar bin Khathab pernah mendatangi Abu Bakar ra, sedang ia memegang lisannya. Lalu Umar berkata, “ . .semoga Allah swt mengampunimu! Lantas Abu bakar menimpali: Inilah yang memasukkanku kedalam neraka.”.  dari sini ada beberapa cara agar kita tak terjerumus pada bahya lisan:
1.      Perbanyak berdzikir kepada sang kholiq
Dengan kita berdzikir Terus-menerus pada Allah swt seperti membaca Al-Quran, bertasbih dan istigfar maka hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah swt, sebagaimana  tercantum dalam firmannya  :
 “Ingatlah dengan mengingat Allah swt hati menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28)
Ketika marah menguasai, hendaklah segera menghindar dari penyebab kemarahan, mengambil air wudhu kemudian beristighfar kepada Allah swt. Sebagaimana Ali bin Abu Thalib pernah berkata, “sungguh menakjubkan orang yang hancur, dan ia bisa selamat darinya,” kemudian ia ditanya oleh seseorang, “lalu apakan itu wahai Ali? Beliau menjawab: “istighfar.”  Marah adalah kehancuran jika tidak di manej dengan baik. 
2.      Menghindari dari pembicaraan yang tidak bermanfaat
Ucapan yang tidak seharusnya seorang itu ucapkan dan diamnya adalah tidak berdosa. Sebagaimana seorang yang menanyakan, apakah kamu sering shalat malam? Jika yang ditnya menjawab ya maka seolah-olah ia riya’ dengan amalannya tersebut, adapun jika tidak dijawab maka yang ditanya dianggap tidak menghormati si penanya. Nabi saw bersabda:
 “Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan/manfaat” (HR At Tirmidziy)
Dengan demikian seyogyanya bagi seorang muslim untuk selalu menggunakan waktu yang ada untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan sampai membuang waktu atau menyia-nyiakannya hanya karena pembicaraan yang tidak memberi manfaat. Karena setiap kata yang keluar dari  mulut akan dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi sarana menuju ke sorga atau umpan jebakan ke neraka.
3.      Tidak ikut serta dalam  perkataan/pembicaran yang bathil
Pembicaran yang bathil adalah pembicaran yang berorientasi pada kepuasan sesaat dimana pangkal dari pembicaraan tersebut adalah ghibah dan namimah (adu domba) dan lainnya. Yang demikian adalah perbuatan yang haram, bagi seorang mukmin cukuplah firman Allah swt dan sabda Nabi Muhammad sebagai rambu-rambu agar tidak terjerumus kedalamnya. Dalam menerangkan penghuni neraka Allah swt berfirman:
            Artinya: “Dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” Qs: al-Mudatsir, 45.
Rosulullah saw bersabda:
“Orang yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak terlibat dalam pembicaraan batil.” (HR Ibnu Abid-dunya)
Perkataan keji dan kotor muncul disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yang suka menyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat bermajlis dengan orang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang durhaka.
Semua ucapan batil akan membawa kebinasaan, dapat dikatakan juga orang yang dengan mudahnya mengucapkan perkataan  kotor/ keji sejatinya ia telah bersiap untuk mengisi tempat dineraka. Karena yang demikian adalah perbuatan tercela yang dilarang oleh dinul Islam.
4.      Menghindari dari perdebatan dan berbantahan yang tidak mendatangkan manfaat
Adanya perdebatan yang tak bertepi hasilnya menjadikan obat pelancar untuk mengeluarkan kata-kata yang keji. Dimana didalamnya orang ingin menjatuhkan lawannya begitu sebaliknya lawan pun tak mau kalah, ia pun mengungkapkan kejelekan-kejelekan lawannya. Semua itu adalah bersumber dari rasa tinggi hati yang berlebih.
Perdebatan yang demikian tidak pernah ada dalam islam, Nabi Muhammad saw bersabda:
            ““Tidak akan tersesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan hidayah Allah swt, kecuali mereka melakukan perdebatan.” (HR. At Tirmidzi)
Yang demikian akan menjaukan seorang dari hidayah Allah swt, semakin ia jauh dari hidayah-Nya semakin keras pula hatinya untuk menerima kebenaran. Suatu ketika Imam Malik pernah bertutur : “ Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan kesalahan.”
Segala puji hanya milik Allah swt, Rob semesta alam. Yang telah menjadikan lisan sebagai alat untuk selalu bedzikir kepada-Nya. Semoga sebagai hamba yang tak luput dari salah kita selalu ingat dengan yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw, suatu ketika beliau memberi nasihat kepada Mu’adz bn Jabal agar selalu beramal sholih dan menjaga pokok dinul Islam, lantas beliau bertanya kepada Mu’adz: ‘maukah aku beritahukan kunci darri semua perkara tersebut? Ia menjawab: “Ya, Rosulullah. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda: “jagalah ini -lisan-. Mu’adz pun dengan rasa penasaran brtanya kepada Nabi saw, ya rosulullah apakah kami dihisab lantaran apa yang kami ucapakan? Maka beliau menjawab, celakalah engkau tidaklah kebanyakan manusia terjerumus ke neraka disebabkan wajah-wajah mereka atau simpanan mereka melainkan ucapan lisan mereka.”. (HR: at-Tirmidzi)
Kejujuran lisan tidak menghina/mengumpat, tidak bohong dan tidak mengucapkan hal-hal yang tidak berguna. Begitu dengan anggota badan lainnya harus selalu jujur yaitu dengan tidak bermaksiat kepada sang kholiq.
Segala ucapan yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggung jawabannya, dan semua dicatat oleh malaikat pencatat amal. Sebagaiman firman-Nya,
            “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (Qs: Qaaf, 18)
Selalunya harus kita ingat pesan orang tua kita “ajine neng diri ono ing lati” jangan sampai lisan yang tak bertulang ini mengantarkan kita kepada kebinasaan, kehinaan dan pertumpahan yang tidak diingini. Jika ucapan kita tidak mendatangkan maslahat justru sebaliknya, diam adalah emas. Sebagaimana sabda Nabi saw:
            “barangsiapa yang beriman kepada Allah swt hendaklah ia berkata yang baik, atau ia diam.” (HR: Bukhori dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar