Aji
ning diri ono eng lati
Kadang
kuasa diri pada seseorang tidak mampu menahan amrah yang sudah diubun-ubun,
sehingga tersalurkan menjadi umpatan, makian atau kata-kata kotor. Semua
seolah-olah sudah menjadi gerak reflek ketika ada gesekan yang sepele untuk
mengeluarkan kosakata kotor atau umpatan.
Berawal
dari canda, lama berlangsung candanya maka setan memebri bumbu agar lebih seru,
maka timbul emosi yang tak terkontrol satu sama lain ingin membalas, terjadilah
‘perang mulut’. kubu satu mengunggulkan dirinya lawan pun tak mau kalah
dengannya. Akhirnya satu sama lain saling membeberkan aib masing-masing.
Fenomena
diatas bukan satu hal yang langka. Acapkali seorang tertipu dengan hasutan
setan, sehingga kendali diri yang ada adalah luapan emosi yang tak terkontrol,
pedebatan yang berujung pada saling mendiamkan satu sama lainnya, atau saling
mencaci. Padahal jauh 15 abad silam tauladan kita, baginda Nabi Muhammad saw
telah memperingatkan kepada ummatnya dari sifat marah yang tidak pada
tempatnya,
sebagaimana beliau bersabda kepada salah seorang sahabat yang meminta nasehat :
sebagaimana beliau bersabda kepada salah seorang sahabat yang meminta nasehat :
“
Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda :
“Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari).
Dan
masih banyak untaian hikmah beliau yang menerangkan betapa pentingnya seorang
dapat menahan amarahnya, beliau bersabda:
“Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu yang
pandai bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah ia yang dapat menahan
dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alah)
Dalam
perkara ini ada satu alat yang membantu proses kemarahan menjadi lancar, yaitu
lisan. Ketika seorang dikuasai amarah yang memuncak, hormon yang ada akan
merespon kemudian disalurkan keotak terjadi rekasi pada lisan. Maka akan muncul
umpatan, kata-kata kotor yang tak terkendali. Kemungkinan kecil seorang akan
dapat menahannya atau bersabar atasnya.
Ketika
lisan yang Allah swt amanahkan tidak digunakan dengan semestinya, ia akan
menjerumuskan si empunya kepada kehinaan dan menurunkan reputasinya. Benarlah
ungkapan jawa yang mengatakan “aji neng diri ono eng lati” nilai
seseeorang ada pada lisannya. Sebagai seorang yang beriman tentunya kendali
lisan harus diperhatikan, apakah tidak cukup contoh didepan mata? Hanya
pertengkarang sepele, dengan mudah seorang mengayunkan golok ke kepala orang.
Hanya karena di ejek, orang dengan mudah menumpahkan darah saudaranya. Dengan
demikian ‘ashobiyah yang dilarang Nabi
saw muncul tanpa dipangil.
Bagi
seorang mukmin kalimat yang selalu terucap senantiasa memberi efek baik bagi
yang mendengarkan atau lawan bicaranya. Ucapan yang baik merupakan salah satu
faktor terpenting dalam mengokohkan karakter seseorang dan selalu akan
membimbing mereka ke jalan yang baik. Ucapan yang baik akan memberi dampak baik
bagi ruh dan pikiran. Betapa banyak ucapan yang keluar dari seorang pendosa
atau orang-orang yang enggan menjaga lisannya mampu merubah seorang kejalan
yang tercela. Na’udzubillah
Betapa
penting lisan yang Allah berikan kepada umat manusia, sehingga seorang hamba
diperintahkan untuk menjaganya. Dalam suatu kesempatan Umar bin Khathab pernah
mendatangi Abu Bakar ra, sedang ia memegang lisannya. Lalu Umar berkata, “ .
.semoga Allah swt mengampunimu! Lantas Abu bakar menimpali: Inilah yang
memasukkanku kedalam neraka.”. dari sini
ada beberapa cara agar kita tak terjerumus pada bahya lisan:
1. Perbanyak
berdzikir kepada sang kholiq
Dengan
kita berdzikir Terus-menerus pada Allah swt seperti membaca Al-Quran, bertasbih
dan istigfar maka hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah
swt, sebagaimana tercantum dalam
firmannya :
“Ingatlah dengan mengingat Allah swt hati
menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28)
Ketika
marah menguasai, hendaklah segera menghindar dari penyebab kemarahan, mengambil
air wudhu kemudian beristighfar kepada Allah swt. Sebagaimana Ali bin Abu
Thalib pernah berkata, “sungguh menakjubkan orang yang hancur, dan ia bisa
selamat darinya,” kemudian ia ditanya oleh seseorang, “lalu apakan itu wahai
Ali? Beliau menjawab: “istighfar.” Marah
adalah kehancuran jika tidak di manej dengan baik.
2. Menghindari
dari pembicaraan yang tidak bermanfaat
Ucapan
yang tidak seharusnya seorang itu ucapkan dan diamnya adalah tidak berdosa.
Sebagaimana seorang yang menanyakan, apakah kamu sering shalat malam? Jika yang
ditnya menjawab ya maka seolah-olah ia riya’ dengan amalannya tersebut, adapun
jika tidak dijawab maka yang ditanya dianggap tidak menghormati si penanya. Nabi
saw bersabda:
“Di antara tanda kesempurnaan Islam seseorang
adalah ketika ia mampu meninggalkan sesuatu yang tidak ia perlukan/manfaat” (HR
At Tirmidziy)
Dengan
demikian seyogyanya bagi seorang muslim untuk selalu menggunakan waktu yang ada
untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan sampai membuang waktu atau
menyia-nyiakannya hanya karena pembicaraan yang tidak memberi manfaat. Karena setiap
kata yang keluar dari mulut akan
dimintai pertanggung jawabannya. ucapan yang keluar bisa menjadi sarana menuju
ke sorga atau umpan jebakan ke neraka.
3. Tidak
ikut serta dalam perkataan/pembicaran
yang bathil
Pembicaran
yang bathil adalah pembicaran yang berorientasi pada kepuasan sesaat dimana
pangkal dari pembicaraan tersebut adalah ghibah dan namimah (adu domba) dan
lainnya. Yang demikian adalah perbuatan yang haram, bagi seorang mukmin
cukuplah firman Allah swt dan sabda Nabi Muhammad sebagai rambu-rambu agar
tidak terjerumus kedalamnya. Dalam menerangkan penghuni neraka Allah swt
berfirman:
Artinya: “Dan adalah kami
membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” Qs:
al-Mudatsir, 45.
Rosulullah
saw bersabda:
“Orang
yang paling banyak dosanya di hari kiamat adalah orang yang paling banyak
terlibat dalam pembicaraan batil.” (HR Ibnu Abid-dunya)
Perkataan
keji dan kotor muncul disebabkan oleh kondisi jiwa yang kotor, yang suka
menyakiti orang lain, atau karena kebiasaan diri akibat bermajlis dengan
orang-orang fasik (penuh dosa) atau orang-orang durhaka.
Semua
ucapan batil akan membawa kebinasaan, dapat dikatakan juga orang yang dengan
mudahnya mengucapkan perkataan kotor/
keji sejatinya ia telah bersiap untuk mengisi tempat dineraka. Karena yang
demikian adalah perbuatan tercela yang dilarang oleh dinul Islam.
4. Menghindari
dari perdebatan dan berbantahan yang tidak mendatangkan manfaat
Adanya
perdebatan yang tak bertepi hasilnya menjadikan obat pelancar untuk mengeluarkan
kata-kata yang keji. Dimana didalamnya orang ingin menjatuhkan lawannya begitu
sebaliknya lawan pun tak mau kalah, ia pun mengungkapkan kejelekan-kejelekan
lawannya. Semua itu adalah bersumber dari rasa tinggi hati yang berlebih.
Perdebatan
yang demikian tidak pernah ada dalam islam, Nabi Muhammad saw bersabda:
““Tidak akan tersesat suatu kaum
setelah mereka mendapatkan hidayah Allah swt, kecuali mereka melakukan
perdebatan.” (HR. At Tirmidzi)
Yang
demikian akan menjaukan seorang dari hidayah Allah swt, semakin ia jauh dari
hidayah-Nya semakin keras pula hatinya untuk menerima kebenaran. Suatu ketika
Imam Malik pernah bertutur : “ Perdebatan akan mengeraskan hati dan mewariskan
kesalahan.”
Segala
puji hanya milik Allah swt, Rob semesta alam. Yang telah menjadikan lisan
sebagai alat untuk selalu bedzikir kepada-Nya. Semoga sebagai hamba yang tak
luput dari salah kita selalu ingat dengan yang disabdakan oleh Nabi Muhammad
saw, suatu ketika beliau memberi nasihat kepada Mu’adz bn Jabal agar selalu
beramal sholih dan menjaga pokok dinul Islam, lantas beliau bertanya kepada
Mu’adz: ‘maukah aku beritahukan kunci darri semua perkara tersebut? Ia
menjawab: “Ya, Rosulullah. Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda: “jagalah
ini -lisan-. Mu’adz pun dengan rasa penasaran brtanya kepada Nabi saw, ya
rosulullah apakah kami dihisab lantaran apa yang kami ucapakan? Maka beliau
menjawab, celakalah engkau tidaklah kebanyakan manusia terjerumus ke neraka
disebabkan wajah-wajah mereka atau simpanan mereka melainkan ucapan lisan
mereka.”. (HR: at-Tirmidzi)
Kejujuran
lisan tidak menghina/mengumpat, tidak bohong dan tidak mengucapkan hal-hal yang
tidak berguna. Begitu dengan anggota badan lainnya harus selalu jujur yaitu
dengan tidak bermaksiat kepada sang kholiq.
Segala
ucapan yang keluar dari lisan akan dimintai pertanggung jawabannya, dan semua
dicatat oleh malaikat pencatat amal. Sebagaiman firman-Nya,
“Tiada suatu ucapanpun yang
diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.”
(Qs: Qaaf, 18)
Selalunya
harus kita ingat pesan orang tua kita “ajine neng diri ono ing lati” jangan
sampai lisan yang tak bertulang ini mengantarkan kita kepada kebinasaan,
kehinaan dan pertumpahan yang tidak diingini. Jika ucapan kita tidak
mendatangkan maslahat justru sebaliknya, diam adalah emas. Sebagaimana sabda
Nabi saw:
“barangsiapa yang beriman kepada
Allah swt hendaklah ia berkata yang baik, atau ia diam.” (HR: Bukhori dan
Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar