assalamu'alaikum sahabat baca semua terimah kasih atas kunjungan sahabat semua

Kamis, 04 Februari 2016

Tadzkiyah Nafs



Lupakah kita?
kehidupan dunia yang kita jalani selalunya akan dihadapkan pada dua unsur yang selalu berkaitan, Dua unsur yang akan selalu menghiasi kehidupan insan dibumi, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Dari keduanya dapat menjadikan seorang mendapat kemuliaan disisi Allah swt, namun begitu sebaliknya ia bisa mendapat murka-Nya.
Dalam putaran roda kehidupan seringkali kita berhadapan dengan berbagai masalah, kadang terlampau berat dalam mengatasinya menimbulkan kecemasan yang mendalam, ketidaktenangan terus menghantui, selalu terpikir apa yang selanjutnya terjadi. Dunia terasa sempit. Tanpa komando, ia pun merasa telah jauh kepada sang kholiq, yah. . diwaktu susah, sempit dan cemas dapat langsung mengingat Allah, Begitulah kira-kira!

Dilain kesempatan, ketika dihadapkan pada hal yang menyenangkan hati, apa dikata, kadang kita terlampau bahagia hingga lupa bersyukur kepada Sang Pemberi Segalanya. Khusyuk masyuk dengan kenikmatan didepan mata, hingga lupa tetangga nun jauh yang sedang terhimpit oleh pahitnya kehidupan dunia bahkan tetangga terdekat sekalipun. Bukan syukur yang ia lakukan namun ingkar terhadap karunia yang diberikan kepadanya.
Entah lupa atau melupakan syukur kepada-Nya, karena kebanyakan manusia sering melupakan syukur terlebih dahulu atas nikmat yang sudah diterimanya sementara ia terus menerus meminta sang pemberi rizki agar menambah segala nikmat kepadanya. Allah swt berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
            “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim:7).
Berapa nikmat yang sudah Allah swt berikan kepada kita? Pernahkah kita menghitung? Atau mengingat bahwa ini semua adalah karunia dari-Nya. Betapa maha lusanya kasih sayang Allah swt kepada kita manusia. Kita selalu meminta, memohon agar diberi kecukupan didunia, kesehatan, namun kita lalai dengan nikmat kesehatan, kesempatan yang begitu luas dan kedua tangan untuk mencari rizkinya. Jelas sudah, kita tidak akan mampu menghitung apa yang Allah swt berikan kepada dalam keberlangsungan hidup kita. Hal inipun sudah dituliskan dalam al-Quran,
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ
            “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah”. (QS. Ibrohim: 34)
maksudnya, Allah swt memberi nikmat kepada setiap insan yang berkenaan sandang pangan atau kebutuhan lainnya baik yang berupa materi, nikmat jasadi. Namun dalam perjalanannya sedikit demi sedikit manusia mulai ingkar terhadap semua nikmat tersebut, lupa dari mana ia mendapat semua itu, sehingga yang demikian ia disifati oleh Allah swt  dholuuman kaffaarun. Lalim serta tidak memenuhi hak-hak-Nya terhadap semua anugrah yang telah Allah swt berikan kepadanya.
Pantaskah kita lupa dengan sang pemberi nikmat, dengan oksigen yang diberikan tersebar dengan gratis di bumi ini, semua orang dengan leluasa menghirupnya tanpa dipungut biaya. Benarlah hadits qudsi yang Allah swt firmankan:
“hai anak adam, tidak ada suatu hari yang baru melainkan akan aku datangkan dari sisiku rizqi yang baru pula, namun acapkali ketika malaikat datang melapor kepada-Ku selalunya datang membawa laporan kejelekan, kalian masih memakan rizqi yang Aku berikan  sedang kalian masih gemar bermaksiat, apakah ini yang dinamakan keadilan.”
Segala yang Allah swt berikan adalah amanah yang dititpkan kepada makluknya, yaitu manusia. Semua akan dimintai pertangungjawabannya, akan ditanyakan, digunakan untuk apa semua karunia yang Allah berikan?. sebagaimana sabda Rosulullah saw,
لا تزول قدم ابن آدم من بين يدي ربه يوم حتى يسئل عن خمس خصال....  عن ماله من أين اكتسبه و فيما أنفقه
Artinya : “Tidak akan beranjak dari tempat bersirinya seorang anak Adam sampai ia ditanya empat perkara,  (salah satunya ), ia akan ditanya tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia mengeluarkannya.  
          Kenalilah Dia          
            تعرّف على الله  في الرخاء يعرفك في الشدّة
“kenalilah Allah swt, disaat kalian senang, niscaya Dia akan mengenalimu disaat kalian susah”.(HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dan Baihaqi)
Dus, begitulah pesan diatas disampaikan empat belas abad silam oleh seorang yang paling takut kepada sang Kholiq, seorang yang paling ‘alim terhadap keagungan-Nya. Sebuah wasiat disampaikan ketika beliau menboncengkan anak pamannya. Beliau mengajarkan kepada kita bagaimana seorang hamba harus mengenal Allah swt. Wasiat beliau kepada ummatnya agar senantiasa mengenal Allah swt disaat senang dan lapang. Dengan harapan ketika kita mengenal Allah swt disaat lapang dan senang maka Allah swt akan mengenal kita disaat sedang susah.
Hal diatas acap kali dilupakan oleh orang kebanyakan, bagaimana tidak, nikmat sehat yang Allah swt berikan tak digunakan untuk kebaikan. Dalam keadaan senang, gembira sering kali kita lupa dengan tetangga yang sedang susah bahkan untuk mengingat Allah swt pun hilang dengan semakin bertambahnya rasa senang itu. Yang demikian merupakan sunatullah pada setiap makhluq-Nya, jika seorang hamba enggan atau tidak sama sekali mengenal sang pemberi nikmat disaat senang dan lapang maka Dia pun akan melupakan hamba tersebut disaat sedang susah.
       Kenalilah selalu Allah swt maka Dia akan selalu mengenalimu. Karena hal ini yang selalu dilakukan para salaf sholeh, mereka senantiasa memohon kepada Allah swt agar memelihara, menjaga dan mengenalnya disaat mereka dalam kesulitan dan kesusahan.   
Kholilullah Ibrohim as, mengatakan sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya:
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
            “dan yang sangat ku inginkan akan mengampuni kesalahan-kesalahanku pada hari Kiamat”. (Qs: as-Syu’aro, 82)
            Begitulah yang dilakukan oleh nabi Ibrohim as, betepa berharapnya beliau akan rahmat Allah swt. Sehingga lupa akan segala pengorbanan, amal ibadah yang beliau kerjakan selama ini dan menganggap dirinya sebagai orang yang berdosa.
Wujud syukur
            Apa yang telah diberikan Allah swt kepada seorang hamba tentunya membuat ia semakin dekat, dan menggunakannya sebagai sarana taqorub kepada-Nya. Pertama yang harus ia lakukan adalah mengucap syukur alhamdulillah, kadang kita lupa mengucapnya. Sudah barang tentu ini perkara sepele, namun sebagai seorang muslim ini adalah salah satu wujud rasa syukur. Kedua adalah menggunakan segala kenikmatan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada sang pemberi nikmat, dan bersegera untuk menggapai Ridho-Nya. Wallahua’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar