Lupakah kita?
kehidupan dunia yang kita jalani
selalunya akan dihadapkan pada dua unsur yang selalu berkaitan, Dua unsur yang
akan selalu menghiasi kehidupan insan dibumi, yaitu kebahagiaan dan kesedihan. Dari keduanya
dapat menjadikan seorang mendapat kemuliaan disisi Allah swt, namun begitu
sebaliknya ia bisa mendapat murka-Nya.
Dalam putaran roda kehidupan seringkali
kita berhadapan dengan berbagai masalah, kadang terlampau berat dalam
mengatasinya menimbulkan kecemasan yang mendalam, ketidaktenangan terus
menghantui, selalu terpikir apa yang selanjutnya terjadi. Dunia terasa sempit. Tanpa
komando, ia pun merasa telah jauh kepada sang kholiq, yah. . diwaktu susah,
sempit dan cemas dapat langsung mengingat Allah, Begitulah kira-kira!
Dilain kesempatan, ketika dihadapkan
pada hal yang menyenangkan hati, apa dikata, kadang kita terlampau bahagia
hingga lupa bersyukur kepada Sang Pemberi Segalanya. Khusyuk masyuk dengan kenikmatan didepan mata, hingga
lupa tetangga nun jauh yang sedang terhimpit oleh pahitnya kehidupan dunia
bahkan tetangga terdekat
sekalipun. Bukan syukur yang ia lakukan namun ingkar terhadap karunia yang
diberikan kepadanya.
Entah lupa atau melupakan syukur
kepada-Nya, karena kebanyakan manusia sering melupakan syukur terlebih dahulu
atas nikmat yang sudah diterimanya sementara ia terus menerus meminta sang
pemberi rizki agar menambah segala nikmat kepadanya. Allah swt berfirman :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih”. (QS.
Ibrahim:7).
Berapa nikmat yang sudah Allah swt
berikan kepada kita? Pernahkah kita menghitung? Atau mengingat bahwa ini semua
adalah karunia dari-Nya. Betapa maha lusanya kasih sayang Allah swt kepada kita
manusia. Kita selalu meminta, memohon agar diberi kecukupan didunia, kesehatan,
namun kita lalai dengan nikmat kesehatan, kesempatan yang begitu luas dan kedua
tangan untuk mencari rizkinya. Jelas sudah, kita tidak akan mampu menghitung apa
yang Allah swt berikan kepada dalam keberlangsungan hidup kita. Hal inipun
sudah dituliskan dalam al-Quran,
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا
سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ
لَظَلُومٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari
segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah,
tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim
dan sangat mengingkari (nikmat Allah”. (QS. Ibrohim: 34)
maksudnya, Allah swt memberi nikmat
kepada setiap insan yang berkenaan sandang pangan atau kebutuhan lainnya baik
yang berupa materi, nikmat jasadi. Namun dalam perjalanannya sedikit demi
sedikit manusia mulai ingkar terhadap semua nikmat tersebut, lupa dari mana ia
mendapat semua itu, sehingga yang demikian ia disifati oleh Allah swt dholuuman kaffaarun. Lalim serta tidak
memenuhi hak-hak-Nya terhadap semua anugrah yang telah Allah swt berikan kepadanya.
Pantaskah kita
lupa dengan sang pemberi nikmat, dengan oksigen yang diberikan tersebar dengan
gratis di bumi ini, semua orang dengan leluasa menghirupnya tanpa dipungut
biaya. Benarlah hadits qudsi yang Allah swt firmankan:
“hai anak adam,
tidak ada suatu hari yang baru melainkan akan aku datangkan dari sisiku rizqi
yang baru pula, namun acapkali ketika malaikat datang melapor kepada-Ku
selalunya datang membawa laporan kejelekan, kalian masih memakan rizqi yang Aku
berikan sedang kalian
masih gemar bermaksiat, apakah ini yang dinamakan keadilan.”
Segala yang Allah swt berikan adalah
amanah yang dititpkan kepada makluknya, yaitu manusia. Semua akan dimintai
pertangungjawabannya, akan ditanyakan, digunakan untuk apa semua karunia yang
Allah berikan?. sebagaimana sabda Rosulullah saw,
لا
تزول
قدم ابن آدم من بين يدي ربه يوم حتى يسئل عن خمس خصال.... عن ماله من أين اكتسبه و فيما أنفقه
Artinya : “Tidak akan beranjak dari
tempat bersirinya seorang anak Adam sampai ia ditanya empat perkara, (salah satunya ), ia akan ditanya tentang
hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia mengeluarkannya.
Kenalilah Dia
تعرّف
على الله في الرخاء يعرفك في الشدّة
“kenalilah Allah
swt, disaat kalian senang, niscaya Dia akan mengenalimu disaat kalian susah”.(HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dan
Baihaqi)
Dus, begitulah pesan diatas disampaikan
empat belas abad silam oleh seorang yang paling takut kepada sang Kholiq,
seorang yang paling ‘alim terhadap keagungan-Nya. Sebuah wasiat disampaikan
ketika beliau menboncengkan anak pamannya. Beliau mengajarkan kepada kita
bagaimana seorang hamba harus mengenal Allah swt. Wasiat beliau kepada ummatnya
agar senantiasa mengenal Allah swt disaat senang dan lapang. Dengan harapan
ketika kita mengenal Allah swt disaat lapang dan senang maka Allah swt akan
mengenal kita disaat sedang susah.
Hal diatas acap kali dilupakan oleh
orang kebanyakan, bagaimana tidak, nikmat sehat yang Allah swt berikan tak
digunakan untuk kebaikan. Dalam keadaan senang, gembira sering kali kita lupa
dengan tetangga yang sedang susah bahkan untuk mengingat Allah swt pun hilang
dengan semakin bertambahnya rasa senang itu. Yang demikian merupakan sunatullah
pada setiap makhluq-Nya, jika seorang hamba enggan atau tidak sama sekali
mengenal sang pemberi nikmat disaat senang dan lapang maka Dia pun akan melupakan
hamba tersebut disaat sedang susah.
Kenalilah selalu Allah swt maka Dia
akan selalu mengenalimu. Karena hal ini yang selalu dilakukan para salaf
sholeh, mereka senantiasa memohon kepada Allah swt agar memelihara, menjaga dan
mengenalnya disaat mereka dalam kesulitan dan kesusahan.
Kholilullah Ibrohim as, mengatakan
sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya:
وَالَّذِي
أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
“dan
yang sangat ku inginkan akan mengampuni kesalahan-kesalahanku pada hari
Kiamat”. (Qs: as-Syu’aro, 82)
Begitulah
yang dilakukan oleh nabi Ibrohim as, betepa berharapnya beliau akan rahmat
Allah swt. Sehingga lupa akan segala pengorbanan, amal ibadah yang beliau
kerjakan selama ini dan menganggap dirinya sebagai orang yang berdosa.
Wujud syukur
Apa yang telah diberikan Allah swt
kepada seorang hamba tentunya membuat ia semakin dekat, dan menggunakannya
sebagai sarana taqorub kepada-Nya. Pertama yang harus ia lakukan adalah
mengucap syukur alhamdulillah, kadang kita lupa mengucapnya. Sudah
barang tentu ini perkara sepele, namun sebagai seorang muslim ini adalah salah
satu wujud rasa syukur. Kedua adalah menggunakan segala kenikmatan sebagai
sarana untuk mendekatkan diri kepada sang pemberi nikmat, dan bersegera untuk
menggapai Ridho-Nya. Wallahua’alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar